Jumat, 25 Juni 2010

Malaikat



Aku hanya duduk di sana, mengamati seekor burung bertampang aneh dari Jendela. Burung itu sedang mandi di jalan masuk, yang penuh genangan akibat air hujan deras semalam. Aku berpikir, bagaimana kalo aku seekor burung? Kemana aku akan pergi? Apa yang akan kulakukan ? Tentu saja, aku tahu hal itu mustahil, apalagi sekarang. Aku hanya duduk di sini, melihat hidupku bergulir lewat, detik demi detik, menit demi menit. Aku tau, seharusnya aku melakukan sesuatu yang produktif, misalnya mengerjakan PR, tapi aku merasa kalo mengamati Burung aneh itu adalah tugasku.
Sekolah hampir selesai, tapi aku tak ada di sana. Aku harus sakit, di keram di dalam kamar karena flu, di keram di bawah selimut ini.

Di luar sangat indah, dan aku merasa sangat sakit. Aku merasa seperti sedang melayang jatuh ( sesuatu yang mustahil, tapi aku akan tetap merasakannya). Kepalaku mumet, kayak orang mbulet.Sekarang perutku sakit, sehingga aku bangkit dari kursi ke kamar untuk berbaring di ranjangku.

Di ranjang, aku hanya merangkul guling dan berpura-pura sedang sakit parah kalo ibu sedang datang ke kamar ku sesekali hanya untuk menjengukku. Dia tersenyum kecil, dan untuk pertama kalinya berkata,
" berapa lama lagi kau jadikan guling sebagai temanmu ?, dokter bilang kau sudah cukup sehat "

Tapi, anehnya, Ibu tidak menyuruhku untuk segera beraktifitas lagi, seakan dia tau apa yang ku mau. Aku kembali merangkul guling lagi setelah Ibu keluar, dan meminum secangkir teh hangat yang baru saja di bawakan Ibu.
Aku segera mencari kesibukan lain karena merasa telah bosan bersahabat dengan guling. Ku bongkar laci meja belajarku, tak sengaja aku melihat sebuah album foto tua. Aku melihat ada foto seorang balita perempuan di dalamnya, mungkin itu aku pikirku. Aku melihatnya lagi dan ternyata bukan! itu bukan aku ! tertulis jelas di sudut kiri bawah di foto, 23 April 1977. Itu adalah Ibu, ciri-cirinya sama persis denganku sewaktu balita. Berkulit terang, mungil, berambut tipis dan kemerah-merahan karena sering terkena sinar matahari.

Sambil melihat-lihat foto, pikiranku memaksaku untuk berputar mengingat masa-masa yang lalu bersama Ibu. 5 tahun yang lalu aku sangat sensitif, tepatnya ketika aku 10 tahun. Waktu itu Ibu mencoba menasehatiku, tapi aku malah menganggapnya sedang memarahiku. Aku membantah, tapi Ibu tidak marah. Dia selalu tersenyum berusaha agar aku dapat mengerti. Merasa sangat muak, aku langsung berlari menuju kamar dengan sesekali menengok wajahnya, Ibu tersenyum. Aku berhenti lalu mendekatinya dan bertanya,

" kenapa Ibu tersenyum? bukankah lebih baik Ibu marah padaku ? "
" kenapa Ibu harus marah padamu ?
" Aku kan nakal, bu "
" kalau kamu nakal, kenapa kamu kemari lagi dan menanyakan hal ini? "
" Karena aku heran kenapa Ibu tidak marah padaku "
" Karena Ibu yang baik tidak harus memarahi anaknya, dia hanya memberi nasehat dan pengertian saja. Itulah tugas Ibu kepadamu "

Mengingat peristiwa itu, aku jadi malu sendiri dan tersenyum kecil. Aku yang merasa kesepian selama ini ternyata memiliki malaikat yang hanya ada 1 di dunia. Malaikat yang selalu membenarkanku dan tetap akan menyayangiku sampai akhir.

12 komeng:

Inuel Nyun's mengatakan...

owh so sweet ...
aku jadi kangen sama emak, hikz.. beliau juga pengertiannnnnnnn banget, malaikat jiwa dan hatiku :)

makasih ya dhek, salam kenal :)

Riska mbem mengatakan...

arigato ! makasi komennya yah mb :)
iya, salam kenal juga :d

elok langita mengatakan...

I love mamaaaaaaaa... :D

Nice postingan cantik, inspiratif sekali.. :D

TRIMATRA mengatakan...

Jd inget btapa besar jasa seorang ibu dalam hidup kita. Nice post the dream girl in journal

Qie mengatakan...

orangtuaitubagaial-quran,makahormatilah...

elok langita mengatakan...

^__^

Suka sama kata katanyaa.. izin follow iaah.. kalau berkenan mohon follow balik..

mkashy :D

Riska mbem mengatakan...

@ mbak elok : makasih mbakyang, makasi juga uda komen :) like your comment.... :D
@ TRIMARTA : jasa Ibu memang sangatlah besar, sampai kapanpun kita memang tak pernah mampu untuk membalasnya
@ Qie : ^^

Arif Chasan mengatakan...

hua.....
emang gak da habisnya dech low nulis tentang ibu... ^^

Riska mbem mengatakan...

@ mbak elok : uda aku follow back mbak ^-^
@ mas arif : hehehe, syg banget mas aku ma ibu ^-^

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

jadi inget si itik balis yang lama nih jadinya :D

Riska mbem mengatakan...

loh, kok kak itik sih mbak? hehehehe
emang yang ngingetin apa ? hheu :D

Fahma Nurika mengatakan...

wah manis banget.. salam kenal ya :)